Kamis, 02 Agustus 2018

Adakah Salah Yang Bermanfaat?

Pada tulisan saya di blog ini sebelumnya,  kesalahan diidentikkan dengan sesuatu yang positif. Itupun jika seseorang sadar, apabila yang dilakukannya bukan untuk "berbuat kesalahan" yang dimaksud.
Ada cerita menarik dari bukunya Jubilee Enterprise.
Menurutnya, kreativitas membutuhkan kesalahan. Mengapa? Karena kesalahan mengarahkan pada penemuan-penemuan baru.
pada tahun 1970, Spencer Silver ingin membuat lem berperekat paling kuat yang diciptakan dalam sejarah. Namun, kesalahan dalam meracik lem malah mengakibatkan penemuan lem paling "loyo" dalam sejarah. Akhirnya kesalahan ini mengarahkan ke sebuah penemuan paling sukses dalam sejarah, yaitu kertas tempel Post-It.
Masih banyak cerita menarik tentang kesalahan-kesalahan yang berakhir dengan "kesuksesan" dalam bentuk yang tidak terduga. Namun tetap saja hendaknya kita berhati-hati, sebab tidak semua kesalahan menjadikan keuntungan.
Masih dalam buku yang sama, Jubilee mengutip dari tulisan Jamer Hunt seorang penulis artikel tentang desain grafis menyebutkan ada 6 model kesalahan:
1. Abject Failure (kesalahan yang amat fatal)
Kesalahan kayak begini nih yang dampaknya bisa sampai se-saentero jagat. Seperti perkembangan nuklir yang jika salah bakal menghancurkan satu negara sekaligus. Kalau kesalahannya ke manusia dan menyakiti hati, kira-kira masuk type mana ya. hihi
2. Structural Failure (Kesalahan teknis, namun bisa ditangani).
Katanya sih, kesalahan seperti ini pernah terjadi pada teknis pembuatan mikrosop. Tapi, meskipun salah masih bisa digunakan juga kan.
3. Common Failure (kesalahan yang terjadi sehari-hari)
Kesalahan type ini, katanya bisa memicu ide-ide baru. Contohnya model pembelajaran mind map (peta pikiran) yang dikembangkan oleh Tony Buzan.
4. Glorious Failure (kesalahan yang memicu kegembiraan, semangat, dan gairah) Wow, apaan tuh!
5. Version Failure (pemicu terjadinya kreativitas)
Kesalahan yang bisa jadi sesuatu yang baru ya. Versi yang ga disengaja. Inovatif!
6. Predicated Failure (Kesalahan yang bisa diprediksi, sehingga hanya tinggal menyempurnakan yang salah)

Dari 6 model kesalahan di atas, sepertinya hanya ada satu model kesalahan yang menggelisahkan yaitu abject failure. Itupun dengan skala kesalahan yang besar dan sulit kita jumpai atau melakukannya.
Semoga tidak puas dengan penjelasannya, biar agan-sista tetap mau mencari dari sumber lain, dan tetap mau membaca

Rabu, 01 Agustus 2018

Karena Salah Aku Ada

Fallor Ergo Sum
Pernah dengar kalimat ini? Kalimat ini dicetuskan oleh seorang filsuf Romawi bernama Santo Agustinus yang memiliki arti "karena aku berbuat salah maka aku ada".
Pernah takut berbuat salah? Dari  berbuat salah orang bisa trauma dan takut untuk bertindak. Takut bully, takut dimarahi, takut berekspresi, dan akhirnya tidak berbuat apa-apa. Padahal dari kesalahanlah orang bisa tahu, dan mengenal apa yang harusnya dilakukan. Dari kesalahan orang bisa menemukan kesalahan selanjutnya dan menemukan "kesalahan yang berbeda". Dari kesalahan-kesalahan itu timbullah motivasi untuk memperbaiki dan berjalan ke arah yang lebih baik. Jadi, tidak ada salahnya salah jika salah itu tidak merugikan orang lain dan dan dalam niat yang baik.
Contoh besar yang sering kita dengar adalah cerita penemu besar yang ribuan kali melakukan "kesalahan dan gagal". Seperti Thomas Alfa Edison yang pernah ditanya oleh wartawan tentang kegagalan dan kesalahannya dan dijawab dengan luar biasa "aku tidak gagal, tetapi menemukan sesuatu yang baru untuk mencapainya".
Artinya tidak ada jalan yang mulus bagi sesuatu yang dipercayai. Begitu pula dalam suatu kegagaglan dan kesalahan, selalu ada hikmah dan ibrah yang bisa dipetik. Salah itu baik, jika yang dikerjakan menuju yang positif (on process to positive). Ini bahasa bener ga ya hihihi..
Kalau Einstein bilang, a person who never made a mistake never tried anything new.
-Seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan tidak pernah mencoba sesuatu yang baru-

Begitulah sedikit motivasi untuk diri saya pribadi dan semoga bermanfaat bagi yang membaca.
Tulisan selanjutnya insyaAllah akan membahas model-model kesalahan. Karena tidak semua kesalahan itu baik, ada batasan-batasan tertentu saat bermain dengan kesalahan dan kreativitas.
Sebagai kata penutup izinkan saya mengutip kata-kata bijak berikut :
"Sukses itu bergerak dari satu kesalahan ke kesalahan berikutnya tanpa kehilangan antusiasme" (Winston Churcill)

Sabtu, 19 Mei 2018

Awal Mula Masuk Islam di Rajadesa

Cerita yang beredar di masyarakat Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Prabu Sirnaraja yang membangun Samida beragama Hindu. Oleh Prabu Wiramantri yang sudah lebih dulu mendiami daerah Rajadesa, Prabu Sirnaraja diajak untuk memeluk agama Islam. Namun Prabu Sirnaraja menolak karena merasa Hindu dan Islam memiliki satu kesamaan: sami-sami da. Sama-sama meyembah Tuhan yang esa dan mengajarkan kebaikan.
Nah, apakah pada saat itu Islam sudah berjaya di daerah Rajadesa? Siapakah Prabu Wiramantri itu?
Samida bukan satu-satunya kerajaan yang berada di sekitar Rajadesa. Tidak jauh dari Samida terdapat kerajaan yang disebut Sanghiang. Samida yang dipimpin Prabu Sirnaraja merupakan pusat kerajaan beragama Hindu. Sedangkan Sanghiang adalah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Wiramantri yang beragama Islam.
Cerita ini tidak tercantum dalam buku Sejarah Rajadesa karya H.M Suryana Wiradiredja, S.H. tetapi orang Rajadesa ada yang tahu cerita ini karena dituturkan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi.
Lalu bagaimana datangnya Islam dari cerita yang lainnya?
Beberapa tahun yang lalu, ada sinetron di salah satu stasiun televisi swasta yang berjudul Raden Kian Santang. Sinetron tersebut menceritakan perjalan Raden Kian Santang, putera Prabu Siliwangi yang memeluk Islam. Ada yang pernah menontonnya?
Sinetron Raden Kian Santang (https://pangeran229.wordpress.com)
Ibu dan Bapak saya salah satu yang mengikuti serial ini. Bahkan Bapak saya selalu ikut berkomentar tentang Raden Kian Santang. Bapak mengatakan bahwa Raden Kian Santang pernah berguru kepada sahabat Nabi di Mekkah, kemudian menyebarkannya di negara Pajajaran. Komentar itu tanpa bukti kuat dan saya pun belum pernah mencoba mengulik sejarah dan belum menemukan bacaan seperti yang dikatakan Bapak.
Jika Raden Kian Santang adalah anak dari Prabu Siliwangi, berarti beliau merupakan saudara bagi Prabu Sirnaraja. Ya, mereka bersaudara tetapi beda ibu. Prabu Sirnaraja adalah putera dari Dewi Nawangsih, sedangkan Raden Kian Santang adalah putera dari Nyi Subang Larang.
Disebutkan pada buku Sejarah Rajadesa yang ditulis oleh Wiradiredja, awal mula datangnya Islam adalah ketika Prabu Kian Santang memohon kepada Ramanda Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam dan melepaskan agama lama. Kejadian ini terdengar sampai ke penjuru negeri Pajajaran dan menimbulkan kasak-kusuk sampai ke daerah-daerah termasuk kerajaan yang berada di Rajadesa. Orang-orang yang berada di Rajadesa berkumpul dan membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Mendengar banyak warga yang berkumpul dan membicarakan hal tersebut, Prabu Sirnaraja kemudian mengadakan pertemuan yang bertempat di Samida dengan orang tua dan warga lainnya. Prabu Sirnaraja berbicara bahwa sebenarnya, dirinya mengakui agama Islam sebagai agama yang baik. Akan tetapi, karena Prabu Sirnaraja merasa sudah tua ia akan melanjutkan agama yang lama. Prabu Sirnaraja bahkan berpesan agar agama Islam diterima dengan baik. Setelah pembicaraan tersebut, seketika itu juga Prabu Sirnaraja menghilang dan terjadi gelap gulita selama 7 hari 7 malam.
Pertemuan itu dihadiri oleh Susuhunan Rangga, cucu dari Prabu Sirnaraja, yang selanjutnya diserahi kerajaan Rajadesa. Susuhunan Rangga inilah yang menerima dan menganut agama Islam, dan kemudian mengganti namanya menjadi Kiai Wira Desa.
Setelah Prabu Sirnaraja merat/tilem (menghilang), yang tersisa adalah batu-batu yang berserakan. Susuhunan Rangga (Kiai Wira Desa) dan yang lainnya kemudian membereskan batu-batu yang ditinggalkan kemudian meletakkannya di daerah tertentu. Sebelum orang orang tilem, mereka telah membawa batu masing-masing sesuai dengan kedudukan dan jabatannya.
Berdasarkan dari cerita tersebut, Rajadesa menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari Prabu Siliwangi dan kerajaan Pajajaran. Hanya saja setelah selesai membaca dengan seksama saya merasa bingung untuk menentukan apakah benar Prabu Wiramantri adalah salah satu raja yang berada di Sanghiang. Saya melihat silsilah Keturunan Rajadesa yang juga bernama Wiramantri. Beliau adalah anak dari Susuhunan Rangga (Kiai Wira Desa). Setelah saya diskusi dengan Redaktur Pelaksana Tabloid Galura, Pak Nanang Supriyatna, saya menjadi tahu bahwa cerita ini masih berupa legenda. Tentunya karena belum bisa dibenarkan secara nyata dan bukti sejarahnya yang masih kurang.
Cerita Rajadesa yang menarik ini, ternyata menjadi daya tarik sebagian pemuda Cibulakan, Rajadesa. Pemuda Cibulakan yang tergabung dalam sanggar Sanghyang Kiwari beserta pemuda yang lainnya pernah memiliki rencana pembuatan film berjudul “Babad Rajadesa”. Akan tetapi, karena masalah pendanaan, film ini hanya baru sampai setengah perjalanan dan entah kapan akan dilanjutkan.
Lagu Babad Rajadesa sudah direkam dan dinyanyikan. Saya mencoba ikut membagikannya juga agar bisa dinikmati banyak orang lewat tautan berikut. 











Sejarah Rajadesa : Guru Gantangan Mencari Wilayah


tulisan tangan Pak Guru Sutisna tentang Rajadesa (dok pri)

Asal muasal suatu daerah menjadi daya tarik tersendiri untuk ditelusuri. Seperti halnya Gunung Tangkuban Perahu yang disangkutkan dengan cerita Dayang Sumbi dan Sangkuriang, maka daerah lain pun memiliki ceritanya sendiri. Pertanyaannya, apakah cerita itu bisa dipertanggungjawabkan?
Saya memiliki kesempatan untuk membaca sejarah Rajadesa dari tulisan tangan almarhum Pak Guru Sutisna. Tulisan tangan tersebut merupakan intisari Sejarah Rajadesa yang diambil dari tulisan Arab Pegon yang sebenarnya diceritakan dari mulut ke mulut orang-orang dahulu secara turun temurun.
Kemudian, aku memotret buku tulis tangan tersebut dan mengunggahnya di status WA-ku. Seseorang langsung mengomentari dan akhirnya terjadi percakapan. Orang itu memiliki 3 buku referensi tentang sejarah Rajadesa. Bahkan beliau sempat menelusuri sejarah dan silsilah keluarganya yang ternyata masih keturunan dari Prabu Sirnaraja. Percakapan ini berakhir dengan saling menukar buku, dia meminjam buku tulis tangan Pak Sutisna, dan aku meminjam buku Sejarah Rajadesa yang sudah diketik rapi dengan nama penulis H.M Suryana Wiradireja, S.H.
Mungkin ada yang bertanya. Rajadesa emang nama daerah mana, sih? Terkenal seperti Tangkuban Perahu gitu? Rajadesa merupakan nama Kecamatan di Kabupaten Ciamis Jawa Barat yang diapit oleh dua kecamatan lain yaitu Kawali dan Rancah.
Lalu siapa Prabu Sirnaraja? Baiklah. Cerita Rajadesa akan dimulai.
Prabu Sirnaraja merupakan gelar yang diberikan oleh Siliwangi kepada Guru Gantangan yang merupakan anaknya sendiri. Ketika masih dalam istana Pajajaran, Prabu Siliwangi mengadakan pertunjukkan tari di antara keluarga kerajaan. Prabu Siliwangi mengetahui Guru Gantangan tidak mungkin ikut gelaran tersebut karena mengalami cacat fisik sejak dari kecil. Tangannya tidak normal atau dalam bahasa Sunda disebut kengkong. Beliau bahkan berpendapat bahwa Guru Gantangan bukan anaknya karena tidak seperti anaknya yang lain.
Perkataan tersebut sampai di telinga Guru Gantangan dari seorang patih kerajaan. Hal tersebut membuat Guru Gantangan pergi dari kerajaan Pajajaran dan berkelana ke tempat yang entah dimana akan dituju. Jauh dari tempatnya asal hingga sampailah ia bertemu dengan seorang emban (pembantu rumah tangga keraton), Dalem Rancah. Dalem Rancah pun mengurus segala kebutuhan Guru Gantangan. Mengetahui Guru Gantangan cacat, Dalem Rancah meminta Guru Gantangan untuk bertapa di Hulu Cirancah.

Potret jalanan di Samida (dok. pri)

Selama 12 bulan bertapa, ada keajaiban yang membuat tangannya bisa normal. Ketika Guru Gantangan bertapa beliau didatangi seekor tupai putih yang jinak tapi sulit untuk ditangkap. Pada akhirnya tupai putih tersebut tertangkap dan secara kebetulan justru ditangkap dengan tangannya yang cacat. Maka terjadilah tarik menarik yang sama kuatnya antara tupai dan tangan Guru Gantangan. Seketika itu juga tangannya menjadi lurus dan tidak kengkong lagi, sedang tupai putih tersebut pergi tanpa diketahui rimbanya.
Lama bertapa membuat Adipati Rancah (Dalem Gayam Cengkong) memerintahkan pembantunya untuk melihat keadaan Guru Gantangan di tempat pertapaannya. Ternyata Guru Gantangan dalam keadaan sehat dan tangannya sudah sembuh. Mereka pun menghadap Dalem Rancah dan Dalem Rancah bersyukur melihat keadaan tersebut. Selama di Rancah, tidak ada seorangpun yang tahu asal usul Guru Gantangan.
Pada suatu hari, puteri Dalem Rancah menderita sakit sangat parah. Semua dukun dipanggil tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkannya. Dalem Rancah berjanji, siapa saja yang dapat menyembuhkan puterinya akan diangkat menjadi menantunya. Guru Gantangan yang merasa iba dengan keadaan Nyi Putri, memutuskan mencoba untuk mengobati Nyi Putri dan atas kehendak yang kuasa puteri Dalem Rancah tersebut sembuh. Seperti janji Dalem Rancah, akhirnya Guru Gantangan dinikahkan dengan Nyi Putri.
Beberapa waktu kemudian datanglah rombongan utusan dari Pajajaran sebanyak 4 orang untuk mencari salah satu putera Siliwangi yang pergi tanpa pemberitahuan. Utusan tersebut adalah Buyut Purwakalih, Buyut Gelap Nyawang, Buyut Kidang Pananjung, dan Buyut Pangadegan. Laporan adanya orang yang mencari putra Siliwangi akhirnya sampai pada Dalem Rancah dan mereka pun bertemu. Para utusan dari Pajajaran membawa pula pakaian dan air sebanyak 7 ruas untuk pengisian negeri bila Guru Gantangan tidak mau kembali ke Pajajaran.
Memang ternyata Guru Gantangan tidak ingin kembali ke Pajajaran bahkan ia juga menolak Kadipaten Rancah yang ingin diwariskan oleh ayah mertuanya. Penolakan ini dilakukan Guru Gantangan karena beliau ingin membangun dan mencari wilayahnya sendiri. Dengan restu ayah mertua, akhirnya Guru Gantagan dan istri beserta 4 orang utusan Pajajaran pergi mencari tempat untuk dijadikan negeri. Di perjalanan rombongan berhenti sebentar atau dalam bahasa Sunda disebut ngarandeg. Maka tempat tersebut sampai sekarang disebut Randegan.

Papan petunjuk menuju Makam Keramat Samida (dok pri)

Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu tempat yang rendah (pasir handap) rombongan berhenti. Tempat tersebut dianggap cukup baik untuk dijadikan tempat tinggal. Oleh karena itu segera dibuat bangunan seumpama kerajaan dan disusul dengan rumah-rumah yang bermaksud untuk mengabdikan diri di negeri tersebut yang selanjutnya diberi nama Andapraja. Karena merasa tidak sesuai dengan lokasi yang diinginkan akhirnya Guru Gantangan dan rombongan pergi ke arah selatan sehingga sampai pada suatu bukit yang memiliki tempat yang luas dan indah disebut Samida. Sebelum Samida ditempati Guru Gantangan sebenarnya sudah ditempati lebih dulu oleh Danuwarsih. Tetapi, dengan senang hati Danuwarsih memberikan tempat itu kepada Guru Gantangan. Selanjutnya Danuwarsih berpindah tempat ke Gunung Marapi, yaitu tempat yang juga berada di sekitar Rajadesa.
Dalam kamus Bahasa Sunda Naskah dan Prasasti Sunda (2001), Samida ditulis Samidha yang berarti kayu bakar. Sedangkan di masyarakat Cibulakan dan Rajadesa, Samida diangkat dari cerita lain yaitu singkatan sami-sami da. Ceritanya dulu Prabu Wiramantri mengajak Prabu Sirnaraja masuk Islam. Tetapi Prabu Sirnaraja menolak, dan mengatakan: sami-sami da. Maksud Prabu Sirnaraja adalah Islam dan Hindu sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa dan mengajarkan hal-hal yang baik. Di sanalah awal mula kerajaan Rajadesa dibangun, dan Guru Gantangan resmi diberi gelar Prabu Sirnaraja oleh Prabu Siliwangi. Rajadesa merupakan nama kerajaan yang dipilih Prabu Sirnaraja pada waktu itu.


Sampai saat ini, nama Samida masih berlaku dan masuk ke Kecamatan Rajadesa. Beralamat di Dusun Cibulakan Desa Sirnajaya Kecamatan Rajadesa dan sudah menjadi tempat yang diresmikan pemerintah provinsi (Balai Arkeologi, Bandung) sebagai Cagar Budaya.

Tulisan ini dimuat juga di Jabaraca.com
http://jabaraca.com/2018/03/16/sejarah-rajadesa-guru-gantangan-mencari-wilayah/









Senin, 23 April 2018

Wanita, Pendidikan, dan Buku


(sumber poto: instagram senyumsyukur)

Seberapa penting pendidikan untuk wanita?  Setiap orang pasti memiliki pendapat tentang ini. Hari ini saya memakai kata wanita karena ternyata dalam pelajaran bahasa Indonesia kata "wanita" lebih tinggi kedudukannya dibanding kata "perempuan" atau istilahnya disebut ameliorasi. Dalam KBBI diterangkan bahwa ameliorasi berarati peningkatan nilai makna dari kata biasa atau buruk menjadi baik.
Jika istilah "perempuan jalang" bermakna buruk artinya "wanita tuna susila" baik? Artinya sama, tetapi penghalusan kata membuat artinya seakan berbeda.
Sungguh, bahasa itu amat sangat luas dan tidak sesederhana mengatakan fiksi terhadap kitab suci. Saking luasnya bahasa juga bisa menjerumuskan manusia pada keburukan. Kalau istilah Sunda "hade goreng ku basa" , atau ada juga istilah lisan lebih tajam daripada pedang. "Bahasa" itu sangat mudah diucapkan, tetapi juga sangat berbahaya jika tanpa kontrol dan tidak diterima banyak pihak. Itulah mengapa banyak juga kasus-kasus yang terjadi di negeri kita ini yang "mengatasnamakan pelecehan" sebagai alat untuk menjebloskan orang ke penjara. Sayangnya juga, tanpa disadari banyak kasus yang terjadi itu justru diteriaki dan dicaci mungkin oleh saya sendiri dan warganet lainnya. Saya yakin ini tidak lepas dari kemampuan baca seseorang dalam menyimak dan berpikir kritis. Baru-baru ini saya baca disebuah situs terpercaya (republika) tentang rendahnya minat baca Indonesia. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca.
Artinya jelas bangsa kita masih sangat rendah dalam minat baca.
Terlepas dari tulisan di atas, mari kita lihat peran wanita. Wanita adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jadi setujukah wanita itu berpendidikan? Masalah akan berlanjut ketika banyak laki-laki yang takut dan merasa tersaingi jika wanita tersebut lebih berpendidikan. Padahal menurut saya sebab itu terlalu mengada-ada. Mungkin saja, lelaki takut tersaingi atau mungkin lelaki akan memilih wanita yang cantik. Tentang itu, saya kurang paham. Karena pikiran laki-laki mungkin berbeda. Saya jadi ingat statusnya Tere Liye yang kurang lebih mengatakan "kenapa laki-laki lebih banyak memilih wanita cantik daripada yang baik, karena di dunia ini laki-laki bodoh lebih banyak daripada laki-laki buta". Saya kurang paham maksudnya, tetapi mungkin kalian yang baca ini lebih paham.
Tetapi yang jelas wanita berpendidikan bukan hanya dari tingkat sekolahnya, melainkan dari bagaimana ia terus mau belajar.
Wanita yang berpendidikan menyadari bahwa hidupnya adalah belajar, sama halnya dengan laki-laki. Bukankah dalam hadits juga dikatakan "tholabul ilmi faridotun ala kulli muslimin walmuslimat" artinya menuntut ilmu itu diwajibkan bagi semua muslim dan muslimah. Bukan muslim (lelaki islam) atau muslimah (wanita muslimah) saja, tetapi keduanya disebutkan secara beriringan, muslim dan muslimah.
Ketika Hari Kartini kemarin, saya lihat banyak beranda media sosial yang mengangkat tema Kartini ini sebagai ajang untuk menyampaikan bahwa wanita harus berpendidikan tinggi. Para warganet itu terinspirasi dari kata-kata Dian Sastro Wardoyo yang menyebutkan bahwa wanita wajib berpendidikan tinggi meskipun jadi Ibu Rumah Tangga.
Sayangnya, hal itu bisa menjadi kelemahan bagi calon Ibu-Ibu yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi, seakan mereka diposisi yang rendah. Padahal menurut saya, kata pendidikan yang tinggi adalah mampu belajar sepanjang hayat. Entah sengaja atau tidak, di bulan April ini, Hari Kartini tanggal 21 April didekatkan dengan hari Buku Sedunia tanggal 23 April. Seakan menjadi sebuah kode, agar wanita tidak lupa untuk tetap menambah pengetahuan walau bukan dari pendidikan formal. Setiap rumah bisa menjadi sekolah, dan setiap orang bisa menjadi guru (Ki Hajar Dewantara).
Jadi, jangan berkecil hati wahai Ibu-Ibu dan calon Ibu-Ibu. Hidup ini tentang mengisi waktu yang berharga. Semoga kita semua bisa terus belajar tanpa jemu dari manapun itu, dan sebaik-baik teman duduk adalah buku, ia tidak pernah berbohong, menggunjing orang, ataupun mengadu domba. Mungkin juga kita harus bijak memilih buku bacaan. Selamat hari buku sedunia~

Kamis, 19 April 2018

Pasir Tirta Panjalu

Pasir Tirta Panjalu - Sukamantri

(poto: dokpri)
Pemandangan pertama ketika kalian memasuki tempat parkir biasanya belum bisa menggoda. Tetapi ternyata, di Pasir Tirta Panjalu ini jelas berbeda. Suguhan alam yang luas, dan indah bisa kamu temukan ketika baru turun dari kendaraan. 

Lokasi tempat ini di mana sih? Kalau kamu pernah tahu  Lengkong yang dipakai tempat wisata dan ziarah, tempat ini tidak jauh dari sana. Atau kalau kamu biasa ke Bandung arah Suryalaya, maka tempat ini juga tidak jauh dari sana. Saya juga kurang persis tahu nama daerah lokasi ini. Tapi jika arah Lengkong maka kamu jangan belok ke arah Suryalaya. Tetapi terus lurus dan nanti akan menemukan tempat ini dengan petunjuk arah.
Entah karena masih baru atau masih dalam tahap pembangunan, tempat ini masih kurang rapi, sehingga terlihat banyak area kosong tanpa ditumbuhi tanaman. Bahkan tempat untuk potonya pun terhitung masih sangat sedikit. 

(poto:dokpri)
Terus berjalan  ke atas, akan sangat melelahkan sekali jika berjalan kaki. Pakai kendaraan boleh saja, asal siap-siap dengan track yang menanjak. Tanjakannya menakutkan, persis seperti naik-naik ke puncak gunung dan kalau turun curam sekali, kebayang dong kalau sampai kebablasan ga bisa ngerem.
BTW, poto di atas itu bener-bener ga sengaja. Anggap saja aku Milea yang dikejar Dilan
 Ahahaha..

Pemandangan Situ Lengkong terlihat  dari Pasir Tirta 

Nah, lanjut ke atasnya lagi sebenarnya ada kolam renang.
Jadi ujung dari Pasir Tirta ini sebenarnya adalah kolam renang. Karena itulah Pasir Tirta ini disebut juga kolam renang di atas awan. Karena saya ga tertarik renang, saya ga poto-poto di sana deh.

Dari Pasir Tirta ini juga bisa dilihat Situ Lengkong yang luas lohh. . Semakin tertarik? Bayar karcisnya pada tanggal 18 Maret sih 15ribu/orang. Entah sekarang. 

Bisa menjadi alternatif liburan keluarga di waktu libur, sambil bawa bekel. Rame
deh saay.

vanzaloe

(poto:dokpri)


Panjalu, di Ahad sore dengan air danau yang beriak
Baru kutahu di sana ada tempat tersembunyi untuk menenangkan dari riuhnya hari
Tiada karcis dan antri
Semua gratis untuk dinikmati..

15 April 2018
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html